Saat Kehilangan

11f3c-alone-girl-beauty-snow-winter-adorable-gorgeous

Fira tengah menikmati makanan dan minuman di sebuah restoran. Tangannya yang lincah saat mengetik tombol-tombol huruf di laptopnya. Sebentar lagi tulisannya pun rampung. Tulisan yang berisi cerita pendek yang biasanya dia publish di blog pribadinya. Ketika dia mulai letih, diseruputnya minuman dingin bersoda yang menemaninya saat ini. Sesekali dia sempatkan matanya untuk menatap sekeliling.

“yes akhirnya selesai juga.” gumamnya saat tulisannya telah selesai.

Badannya menyandar di sofa empuk yang tengah didudukinya dari tadi. Lamunannya menyapa di kala senja, lamunan tentang sebuah pesta pernikahan yang rencananya akan di helat satu bulan ke depan. Segalanya telah beres, tinggal dirinya bersanding di atas pelaminan. Dia tersenyum malu, tak sabar menanti hari itu tiba, 1 mei.

Fira mulai menyipitkan matanya, seperti menangkap 1 sosok. Sosok pria yang tak terlalu tinggi dan berkaos tim olahraga asal Inggris. Fira tahu siapa dia, meski hanya melihat dari bagian belakang tubuh si pria itu. Badannya yang baru rileks, kemudian ditegakkan kembali. Ragu dengan apa yang dilihatnya, dia membetulkan letak kaca matanya. Dia memang tidak salah lihat, yang dilihatnya memang jelas benar.

“Rafi?” mulutnya mengucap pelan, nyaris berbisik.

Pria itu jelas tidak mendengarnya. Dia masih mengantre menunggu pesanan. Fira pun masih berharap yang dilihatnya memang benar Rafi.

Tak lama, sosok itu membalikkan badan. Mencari tempat kosong yang bisa dia duduki. Pun Fira masih memerhatikan Rafi dari kejauhan. Spontan tangannya melambai dan berteriak memanggil pria manis itu. Yang dilambai pun menoleh, menyipitkan mata, mencari tahu siapa sosok wanita anggun itu. Dia berjalan menghampiri.

Fira setengah tersadar ketika melambai. Dirinya kaget ketika Rafi menoleh. Jantungnya berdebar, lututnya lunglai bukan main, wajahnya, entahlah, antara malu dan senang. Tapi, dia sangat jelas menutupi kecanggungannya. Seperti fans yang bertemu artis idolanya. Fira pun gugup seketika. Bahkan dia tak tahu harus berbuat apa. Rafi kenangan masa lalunya yang dulu selalu dia cari. Kini kenangan itu telah kembali.
“Hei, Fira, ya?”

“Iya. Apa kabar, Rafi?”

Mereka bersalaman. Bukan seperti orang yang pernah kenal sebelumnya, tetapi malah terlihat canggung. Fira sangat jelas menutupi kebahagiaannya. Senyumnya tertahan di hati.

 

*****

 

Sejak kejadian di hari itu pun, Fira selalu dipenuhi tentang sosok Rafi. Hatinya selalu berdebar mengingat kejadian di restoran bersama Rafi. Fira mungkin sedang jatuh cinta. Jatuh cinta pada orang yang sama untuk kedua kalinya.

Lamunannya menuju pada saat masa sekolah, di mana mereka pertama kali bertemu, saat Rafi pertama kali mengirimnya SMS dan mengaku sebagai pengagum rahasianya. Mereka dekat, saling memuji, dan segalanya berjalan begitu saja. Akhirnya mereka berpacaran, beberapa bulan pun akhirnya mereka harus berpisah dengan alasan yang tidak jelas.

Namun, pertemuan kali ini membuatnya merasakan lagi getar-getar yang pernah hilang. Sayang, pertemuan itu tak berlangsung lama. Mereka hanya saling bertukar nomor ponsel.

Hampir setiap hari, setiap waktu, Dewa menyapa Fira lewat SMS. Ingin rasanya Fira mengulang hari itu lagi. Ingin dia kembali ke masa sekolahnya, masa putih abu-abu. Memang tak ada yang paling indah, selain cinta yang bersambut. Fira tersenyum, senyum dengan makna yang pasti.

Di tengah kesibukan di Jakarta, di tengah kesibukannya meeting berama client kesana dan kemari ternyata Faris masih menyisakan waktu untuk kekasih hatinya. Dia mengamati, diam diam, termangu. Hanya hatinya sedang dilanda gelombang yang besar. Namun, tak juga gelombang itu menerjang kekasih hatinya. Semua tertahan di dalam hati. Hanya menjadi ganjalan yang menyesakkan batinnya.

Sekali lagi, dirinya hanya mengutak-atik akun Facebook dan Twitter miliknya, membuka laman milik kekasih hatinya itu. Di sana banyak tertera untaian-untaian puitis. Hanya satu yang Faris tahu, untaian kalimat itu bukan untuk dirinya.

Faris memang jarang berada di sisi kekasihnya. Telepon hanya sesekali. Itu pun jikalau senggang. Pekerjaan yang menuntutnya jauh dari sang kekasih hatinya. Namun, rasa saying Faris tak pernah sedikit pun luntur. Bahkan, Faris sangat menanti-nantikan hari pernikahannya tiba. Dia pun yakin kekasihnya, Fira, akan selalu setia menunggunya.

 

*****

 

Sudah tiga minggu berlalu. Fira keterlaluan. Sudah sangat keterlaluan. Dia masih bertemu dengan Rafi. Rafi memang terlihat sempurna. Selalu sempurna dimatanya. Fira pun tahu dirinya kembali memuja Rafi. Begitu pun sebaliknya Rafi.

Kini, mereka tengah bercengkerama. Malam ini mereka sengaja bertemu untuk makan malam. Suasana kembali aku. Mereka sama-sama tahu apa yang tengah mereka rasakan. Perlahan Rafi menggenggam tangan Fira. Fira pun tak mengelak. Tak benar perasaan itu.

“Fira, aku masih mencintaimu. Tapi, bolehkah aku mendekatimu lagi seperti dulu?” Tanya Rafi.

Fira terkejut. Badannya bergetar. Entah, harus jawab apa. Senyum sudah mengembang di wajahnya. Fira melepaskan tangan dari genggaman Rafi. Menatap Rafi dengan lekat dan bertanya pada hatinya, mungkinkah dia bermain api?

Tiba-tiba, di pagi ini Faris mengusik pikirannya. Sebuah pesan muncul di laman Facebook dan Twitter-nya di waktu yang bersamaan. Hal yang jarang di lakukan oleh Faris, meski hanya ucapan, “selamat pagi yang disana. Semoga harimu menyenangkan.” Tapi pagi ini, dengan mata terbelalak Fira menangkap tulisan itu. Sejenak dirinya pun tersadar. Seolah beberapa minggu ini ada jiwa yang terlupakan, ada jiwa yang tengah menantinya untuk sekedar disapa, ada jiwa yang sebenarnya hilang, tetapi Fira terlalu larut dalam euphoria masa lalu. Kalimat itu bukanlah kalimat yang membuat bibir Fira merekah, tetapi malah ada mendung di wajahnya.

Termenung. Fira menatap layar laptopnya. Gelisah tak tertahankan. Berbuat apa, melakukan bagaimana, semua menjadi satu dan tak perlu dipertanyakan. Salah jelas. Dirinya bersalah. Diputarnya cincin putih yang tengah melingkar di jemarinya. Pilihan jelas mempertanyakannya. Ingin ke manakah hatinya? Tepatkah untuk berlabuh sementara di hati Faris? Atau, berlabuh selamanya di hati Rafi? Beberapa minggu lagi, tetapi perasaan itu justru semakin dalam bagi Fira dan Rafi.

 

*****

 

Fira dan Faris pun bertemu, hanya ada dua manusia yang sebelumnya jarang bertemu. Bukan lagi tawa, bukan lagi nyaman, bukan lagi rangkulan yang tenang, bukan lagi kata-kata manis, dan segala yang berbau romantis.

Mereka terdiam, membisu. Bingung harus mengawali dari mana.

“Maaf, kalau aku begitu sibuk, hingga baru sekarang kita dapat bertemu,” kata Faris. wajahnya sendu.

“It’s okay. Aku mengerti dan sepenuhnya paham.”

“Tentu, karena kita sudah sama-sama dewasa.” Hening lagi. Segalanya seperti tertidur.

“Aku sudah tahu semuanya. Kamu nggak perlu cerita….,” Faris mengawali lagi. Masih dengan wajah yang sendu dan mencoba sedikit tersenyum.

“Oh kamu sudah tahu rupanya….. Aku benar-benar minta maaf. Aku memang salah besar. Tapi, kenapa kamu diam saja?”

“Karena aku tahu kamu masih selalu sayang Rafi. Selama ini yang kamu tunggu Cuma Rafi, yang ada dalam bayanganmu hanya Rafi. Bukan aku,” pelan kalimat Faris terlantun.

Fira termenung. Hanya membenarkan dalam hati. Tanpa mau melukai hati Faris. Kemudian, Faris meraih jemari manis kekasihnya, dimana cincin putih itu bertengger, lalu perlahan mengambil cincin itu dari jemari sang kekasih.

Sesaat Fira tersentak. Air matanya terserak. “Maaf, mungkin ini jalan yang harus kita pilih. Aku harus rela, meski sangat berat buatku.”

Cincin itu sudah berpindah tangan.

“Tapi, bukan ini mauku.” Ucap Fira setengah emosi.

“Tapi, inilah yang terbaik. Aku tak mungkin melihat tunanganku bergandengan tangan dengan pria lain, berangkulan begitu mesranya. Terlalu banyak maaf yang harus keluar. Sekarang, aku ikhlas. Aku rela jika kamu menikah dengannya.”

Tetes demi tetes air mulai membasahi pipi Fira. Sebuah air mata penyesalan. Bendungan air matanya pun jebol juga.

Faris menatapnya lekat-lekat.

“Aku nggak marah sama kamu kok. Ya aku tahu persis siapa yang lebih baik dan pantas buat kamu. Aku bukan sosok yang sempurna, yang selalu kamu puja-puja, maka aku benar-benar rela, Fir..”

Fira hanya terdiam. Bibirnya seolah terkunci. Ingin memeluk Faris, tetapi siapa Faris? Mau marah, tetapi untuk siapa? Faris bukan untuk dimarahi. Faris yang justru sempurna, dan Faris yang berjiwa besar. Ini hukuman untuk Fira.

“Terima kasih, Fira. Aku selalu ingat kamu. Aku mengalah.”

Hanya ada kata-kata penutup dari Faris. tak berkesan. Namun, menggores luka bagi Fira. Kini, mereka benar-benar berjarak. Fira tersadar, hatinya terbagi dua. Pilihan itu kini gugur satu.

 

*****

 

Rafi, memang obsesinya saja. Makhluk yang ingin dia miliki lagi seperti dulu lagi. Tapi, akhirnyahanya berlabuh sementara. Fira tak mungkin memilih Rafi. Rafi telah pergi tanpa pamit, Karena merasa dikhianati oleh Fira. Begitu kenyataanya.

Sampai akhirnya Fira sadar, yang selama ini ditunggunya hanya sosok Faris, yang mampu mengertinya, menyayanginya dengan sempurna. Disudut kamarnya yang berukuran sedang Fira menunduk sambil menggigit-gigit ujung sarung bantal tidurnya. Pikirannya bergulat. Dua hari lagi adalah hari yang akan jadi sejarah itu akan tiba. Hari pernikahannya. Hari yang telah lama ditunggu-tunggunya.

Nyatanya, hari yang akan jadi sejarah itu pun tak pernah ada. Hari yang akan jadi sejarah itu pun tak pernah tiba dan tak perlu ditunggu. Hari itu akan berlalu seperti hari-hari lainnya. Fira lebih banyak menghabiskan waktunya sendiri, tanpa Faris, apalagi Rafi.

Kadang dia berteriak sekencang mungkin, kadang termenung, lalu bicara berbisik sambil menatap dinding. Seolah di depannya ada dua sosok pria yang pernah menghuni hatinya.

Kini, Fira hanya bertemankan hampa dan sepi. Fira menangis sekencangnya, kali ini tak ada yang tertahan, karena dia telah kehilangan dua-duanya.

Advertisements