Bermodal Mimpi

Hampir segala sesuatu berawal dari mimpi. Seperti kisah seorang Stephenie Meyer yang suatu hari bermimpi tentang seorang gadis—-dari ras manusia—-dan lelaki—-dari ras vampire—-yang saling jatuh cinta. Tapi, si vampire itu, karena “kodratnya” sebagai penyedot darah, tetap menginginkan darah si gadis itu. Tiga bulan kemudian, mimpi itu diwujudkan dalam gerakan tangan sehingga jadilah novel yang terkenal hingga sekarang, berjudul Twilight. Sama seperti penulis lainnya, novel ini pun ditolak oleh banyak penerbit. Rinciannya, dari 15 surat penawaran yang ia kirim, 5 diantaranya “sunyi” tak dijawab. Sedangkan 9 surat balasan lainnya bernada menolak. Hanya surat terkahir yang berisi ajakan kerja sama yang positif. Surat itu dijawab oleh Jodi Reamer, agensi penerbitan dari Writers House. Novel pertama itu langsung ludes sebanyak 75 ribu kopi dalam sebulan dan berhasil nangkring dalam jajaran 5 buku bestseller menurut New York Times.

 

twilight_saga_breaking_dawn-hd

 

Novel Twilight pun berlanjut. Kisah cinta Bella Swan dan Edward Cullen tidak berhenti dalam satu novel saja. Ada kisah-kisah lanjutan yang mengharu biru, mulai dari New Moon, Eclipse, hingga yang terakhir Breaking Dawn. Semuanya laris manis! Padahal, Stephenie Meyer mengawali “hokinya” itu dari sebuah mimpi.

Yang membedakan Stephenie Meyer dan orang lain yang punya mimpi sama, bahkan lebih heboh adalah aksinya. Ketika punya mimpi “indah” Stephenie Meyer yang tak punya background sekolah menulis ini langsung mewujudkannya dalam bentuk kata-kata indah. Memang awalnya ia tak bermaksud “menjual” tulisannya ini dalam bentuk buku. Setelah didesak orang-orang terdekatnyalah, si anti-rokok dan minuman beralkohol ini mempertimbangkan tawaran untuk memasukkan novel itu ke penerbit besar. Hasilnya, 100 juta kopi seri Twilight terjual di seluruh dunia.

Ada banyak kisah sukses yang awalnya bermula dari mimpi. Selagi mimpi itu gratis mengapa kita mengeluhkan mimpi-mimpi indah itu? Mimpi hanyalah bayangan imajinasi dari kerja otak. Agar menjadi kisah sukses, mimpi itu harus diwujudkan. Sering kali kita mengeluh karena tidak punya keahlian yang cukup untuk mengubah mimpi menjadi aksi. Tapi Stephenie Meyer sendiri membuktikan kalau secara teknis, tulisannya tidak “terlatih”. Ia pun mengakui kalau tulisan-tulisannya itu hanya untuk kepuasan pribadinya sendiri.

Kalau sudah begini, sudikah kita mengeluh tak bisa mewujudkan mimpi hanya gara-gara tak memiliki keahlian? Jika memang benar tak memiliki keahlian tersebut, ada dua jalan keluar yang bisa kamu pilih. Pertama, carilah orang atau rekan kerja yang bisa membantumu. Atau pakai cara kedua, berlatihlah yang keras—-sampai 110%—-agar keahlian itu bisa segera kamu kuasai.

“Mimpi hanya bisa diwujudkan jika ada keinginan untuk mewujudkannya. Sering kali, keahlian menduduki peringkat kedua atau ketiga. Tapi, peringkat pertama adalah kemauan untuk mewujudkan mimpi itu sendiri.”

Advertisements